Selasa, 10 Agustus 2010

CINTA TANPA SYARAT


Aku berjalan diheningnya malam kota ini... Kota ini begitu sepi tiada berpenghuni. Semua penduduknya berduyun duyun menuju mesjid demi menjalankan shalat pertama tarawih Ramadhan tahun ini.. Betapa inginku mengikuti langkah mereka. Tapi kali ini aku tidak bisa. Jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan menyusuri kesunyian jalan. Kubiarkan jendela mobil terbuka. Agar dapat kurasakan kesejukan angin malam menerpa wajahku. Dinginnya yang menusuk tulangku. Sedikit menggigil. Tapi aku sangat menikmatinya.

Terpaku ku melihat bangku tua disudut taman kota. Perlahan kupelankan laju mobil. Menepi. Dan aku turun menghampiri bangku yang sedari tadi menjadi pusat perhatianku. Bentuknya panjang tanpa lengan seperti bangku murid SD zaman aku sekolah dulu. Bangku tua ini tidaklah istimewa. Hitam dan sedikit mengelupas. Mengapa bangku tua ini masih saja ada disini. Padahal taman ini sudah direnovasi. Mengapa pemerintah kota tidak menggantinya dengan bangku yang baru ?

Perlahan kucoba duduk diatas bangku tua ini. Masih kuat. Perlahan kuusap bangku tua ini. Mengapa bangku ini begitu setia berada ditaman ini. Sudah berapa lama dia ada disini.. pasti sudah lama sekali. Karena 4 tahun lalu ketika aku pertama kali datang kekota ini, bangku ini sudah ada disini.. Begitu setia menemani taman ini. Meski terkadang taman ini tidak memperhatikannya. Sibuk dengan keceriaan orang-orang yang datang mengunjunginya, tapi bangku tua tetap aja setia berada disudut taman ini.

Semilir angin kembali menghela rambutku. Sangat dingin. Sangat sunyi. Tak ada suara apapun disini kecuali suara jangkrik yang bernyanyi dan desiran angin yang dinginnya semakin menusuk tulangku. Kembali ku terpaku melihat bangku tua ini. Melihat kesetiaan bangku tua ini, aku berkaca pada diriku sendiri. Bisakah aku setia sepertinya ? Menanti walau tidak diminta. Menunggu walau tidak diinginkan. Apakah aku bisa mencintai seperti bangku tua ini mencintai taman. Menemani taman ini sampai usianya usang dimakan waktu. Walau tidak diperhatikan. Walaupun tidak diperdulikan. Aku tahu bangku ini tidak bahagia. Tapi dia rela menanti, rela menunggu. Karena dia mencintai taman ini. Cinta tanpa syarat. Tak perlu dibalas. Tak perlu memiliki. Hanya mencintai.

Perlahan ku tersenyum Aku ingin menjadi seperti bangku tua ini. Mencintai tanpa syarat. Jadi sayang, tak peduli dengan siapa cintamu akan berlabuh, aku ingin mencintaimu seperti bangku tua mencintai taman ini. Tak perlu kau balas. Biar kurasakan sendiri saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar