Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2011

Senja



Jingga melangkahkan kaki diantara gemuruh ombak. Kakinya yang mungil bermain-main bersama geriangan desirnya. Tak ada jejak kaki. Karena setiap langkahnya akan tersapu oleh ombak yang berlomba-lomba memagut tubuhnya. Ombak itu ibarat harapan, rindu, cinta dan sayangnya pada seorang pria. Jingga menengadah. Tiba-tiba ada sesak merangkul dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang agar sesak yang dirasakannya sirna. Tapi dadanya seperti tertimpa gundukan karang. Semakin berat, tapi semakin rapuh. Angin semilir mulai melambai-lambai. Langit mulai temaram. Rambutnya yang tergerai mulai beterbangan dimainkan angin nakal. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Sebentar lagi senja akan datang, Jingga harus kuat.

Rabu, 22 Desember 2010

Ternyata AKu Tak Pernah Menyadarinya






Apakah aku akan menemukan orang yang tepat ?

Pertanyaan itu selalu berkecamuk dikepalaku. Sejak pertama kali mengenal istilah cinta monyet hingga kini aku menginjak usia 24 tahun pun, aku masih saja berkutat pada pertanyaan bodoh ini. Aku sering berpikir, seperti apa sosok yang dapat dikategorikan tepat? Apakah harus memiliki sorot mata indah, lengan kuat, atau hati yang tulus bak malaikat? Aku sering mendengar pula celoteh-celoteh segelintir orang yang memaknai tepat hanya untuk seorang pria yang tampan dan mapan. Benarkah?

Selasa, 02 November 2010

laki laki dan Hujan



Lelaki itu datang bersama kabut di satu sore yang mendung. Di antara detak suara gerimis dan tetesan keringat jagung yang mengalir laki laki itu terlihat lelah. Lelaki itu menyimpan mata yang aneh. Mata yang murung meski kedutan di sekitar bibirnya tertarik ke atas untuk mengukir sepenggal senyum paksa. Matanya membutuhkan kemampuan ekstra jenius untuk mengurai satu per satu sel-sel makna di dalamnya. Aku melihat wujud arwana sedang menari di mata itu. Mata penuh cinta. Mata yang marah. Mata yang diam. Mata itu membutuhkan istirahat dari pernyataan luka.

Di Kafe itu, suatu siang


Aku duduk disalah satu sudut café di bandara Polonia. Menikmati secangkir kopi. Setengah jam lagi aku akan memasuki pesawat yang akan membawaku ke Jakarta. Dan separuh hatiku yakin, dia pasti akan datang. Menyusulku. Sebentar lagi.