
Jingga melangkahkan kaki diantara gemuruh ombak. Kakinya yang mungil bermain-main bersama geriangan desirnya. Tak ada jejak kaki. Karena setiap langkahnya akan tersapu oleh ombak yang berlomba-lomba memagut tubuhnya. Ombak itu ibarat harapan, rindu, cinta dan sayangnya pada seorang pria. Jingga menengadah. Tiba-tiba ada sesak merangkul dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang agar sesak yang dirasakannya sirna. Tapi dadanya seperti tertimpa gundukan karang. Semakin berat, tapi semakin rapuh. Angin semilir mulai melambai-lambai. Langit mulai temaram. Rambutnya yang tergerai mulai beterbangan dimainkan angin nakal. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Sebentar lagi senja akan datang, Jingga harus kuat.


