Minggu, 13 Maret 2011

Senja



Jingga melangkahkan kaki diantara gemuruh ombak. Kakinya yang mungil bermain-main bersama geriangan desirnya. Tak ada jejak kaki. Karena setiap langkahnya akan tersapu oleh ombak yang berlomba-lomba memagut tubuhnya. Ombak itu ibarat harapan, rindu, cinta dan sayangnya pada seorang pria. Jingga menengadah. Tiba-tiba ada sesak merangkul dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang agar sesak yang dirasakannya sirna. Tapi dadanya seperti tertimpa gundukan karang. Semakin berat, tapi semakin rapuh. Angin semilir mulai melambai-lambai. Langit mulai temaram. Rambutnya yang tergerai mulai beterbangan dimainkan angin nakal. Sebentar lagi, katanya dalam hati. Sebentar lagi senja akan datang, Jingga harus kuat.



Tentang senja...

Jingga sangat menyukai senja, karena ronanya yang merah penuh gelora biaskan bayangan kerinduan akan seorang pria. Senja. Ia ingat, Senja pernah bilang kalau dulu ibunya begitu menyukai senja. Makanya, ibu memberinya nama dengan nama itu. Dan dari dulupun, senja selalu menyukai warna merah itu. Jingga pernah menanyakan tentang makna senja bagi pria yang sangat dicintainya itu.
"Apa yang membuatmu begitu menyukai senja, Senja ?"
"Senja bukan hanya menghadirkan rona merah, senja juga dapat mengobati kerinduan kekasih lewat bias warnanya".
"Lalu gimana kalo senjanya tertutup awan ?"
"Senja yang tertutup awan adalah kerinduan yang terpendam ..!" jelasnya lagi.
"Kalau senja yang bersembunyi dibalik rimbun dedaunan gimana ?"
"Itu senja yang malu-malu, seperti rindumu padaku Jingga. Tak perlu kata, tapi terbias lewat warna wajah semu merah jambu..!"
Kata-kata Senja membuat pipi Jingga bersemu merah. Wajahnya yang bulat, mungil bersemu malu.
"Kau ini, bisa aja deh..!" Pelan Jingga mencubit pelan lengan Senja.

"Hm, Senja, tau tidak kenapa aku menyukai senja..?
Senja mengernyitkan keningnya. "Apa ?" Tanyanya
"Karena Senja selalu membuatku rindu pada seorang Senja. Rindu yang tak pernah habis. Tak pernah lelah untuk hadir setiap hari. Seperti kamu Senja. yang selalu ada untukku..!"Kata-katanya barusan sukses membuat bibir Senja mengembang.
"Udah pinter gombal ya sekarang..! Senja tergelak.

Ah Kenangan....

Jingga memandang laut lepas dihadapannya. Ombaknya masih bergulung. Deburnya bergemuruh seperti dadanya yang bergetar karena rindu. Sebentar lagi senja diufuk akan tiba. Dia tak ingin melewatkan merahnya. Hari ini, tepat setahun sejak kecelakaan itu merenggut nyawa Senja, saat mereka memadu janji di pantai itu untuk bertemu. Menatap senja bersama. Jingga terus melangkah menyusuri lautan lepas. Tak dihiraukannya bajunya yang basah terkena desiran ombak. Sekali kali kakinya tersandung karang yang tajam. Jingga tak perduli jika kakinya terluka. Langkahnya semakin cepat. Setengah berlari. Jingga tak perduli jika ombak itu akan memakannya hidup hidup. Sebentar lagi dia akan bertemu Senja, karena gulungan ombak itu akan membawanya menemui sang merah. Merahnya senja.


Takkan ada yang pisahkan kita
Sekalipun kau telah tiada
Akan kupastikan 
Ku kan memeluk menciummu di surga

~Eren~ Takkan Pisah

1 komentar: